FRASA

        Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi memiliki sistem kaidah kebahasaan yang terstruktur, termasuk dalam bidang sintaksis. Sintaksis merupakan cabang linguistik yang mempelajari hubungan antarunsur bahasa dalam tataran frasa, klausa, dan kalimat.

        Di antara satuan-satuan tersebut, frasa menempati posisi yang sangat penting. Frasa menjadi unsur pembangun kalimat yang bermakna, namun bersifat nonpredikatif. Pemahaman yang kurang tepat terhadap struktur dan jenis frasa dapat menyebabkan ambiguitas makna, kesalahan dalam menyusun kalimat, serta menghambat efektivitas komunikasi.

Lalu, apa sebenarnya frasa itu dan bagaimana mengklasifikasikannya? Yuk, simak pembahasan lengkapnya berikut ini!

A. Pengertian Frasa

       Secara umum, frasa didefinisikan sebagai gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif, artinya tidak memiliki unsur subjek dan predikat sebagaimana yang terdapat dalam klausa atau kalimat (Neli dkk, 2025). Frasa adalah satuan gramatikal dalam sintaksis yang berada di antara kata dan klausa.

      Meskipun tersusun dari dua kata atau lebih, frasa tidak melampaui batas fungsi dalam klausa dan hanya mengisi satu fungsi sintaksis dalam kalimat, seperti subjek, predikat, objek, pelengkap, atau keterangan. Contoh frasa antara lain: akan pulang, sangat cantik, dan di kebun.


B. Karakteristik Frasa

Agar tidak tertukar dengan satuan bahasa lain seperti kata atau klausa, berikut adalah karakteristik frasa yang wajib Anda ketahui:

  1. Terdiri dari Dua Kata atau Lebih: Frasa minimal dibentuk oleh dua kata yang menyatu dalam satu makna gramatikal. Contoh: kue basah (2 kata), sedang belajar matematika (3 kata).
  2. Bersifat Nonpredikatif: Frasa tidak memiliki predikat. Bandingkan: rumah baru (frasa) dengan Rumah itu baru (klausa, karena ada predikat "baru").
  3. Menduduki Satu Fungsi Sintaksis: Satu frasa hanya mengisi satu fungsi dalam kalimat. Contoh: "Ibu membeli kue basah" (frasa nomina sebagai objek).
  4. Memiliki Inti (Unsur Pusat) dan Pewatas: Frasa umumnya memiliki unsur penentu kategori (inti) dan penerang (pewatas). Contoh: pada frasa buku baru, intinya adalah "buku", pewatasnya "baru".
  5. Dapat Diperluas atau Diringkas: Frasa bersifat terbuka. Contoh: rumah kayurumah kayu besarrumah kayu besar itu.
  6. Tidak Mengandung Konjungsi (Kecuali Frasa Setara): Frasa biasa tanpa kata sambung, namun frasa setara bisa menggunakan konjungsi seperti dan atau atau.
  7. Memiliki Satu Makna Gramatikal: Bisa bermakna leksikal (sebenarnya) seperti rumah kayu, atau idiomatis (kiasan) seperti kambing hitam.

C. Jenis-Jenis Frasa

Frasa dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan kriteria tertentu. Penggolongan ini bertujuan untuk memudahkan pemahaman terhadap struktur dan fungsi frasa.

1. Jenis Frasa Berdasarkan Kelas Kata

Berdasarkan kelas kata yang menjadi unsur intinya, frasa dibedakan menjadi:

  • Frasa Nomina: Intinya kata benda. Contoh: rumah besar, buku pelajaran, meja kayu.
  • Frasa Verba: Intinya kata kerja. Contoh: sedang belajar, akan pergi, terus berlari.
  • Frasa Adjektiva: Intinya kata sifat. Contoh: sangat indah, terlalu kecil, cukup baik.
  • Frasa Numeralia: Intinya kata bilangan. Contoh: dua orang siswa, lima buku, hari pertama.
  • Frasa Preposisional: Diawali kata depan (di, ke, dari, pada, dengan). Contoh: di sekolah, ke pasar, dari rumah.
  • Frasa Adverbia: Berfungsi sebagai keterangan. Contoh: sangat cepat, terlalu lama, dengan baik.

2. Frasa Berdasarkan Hubungan Unsur

Berdasarkan hubungan antarunsurnya, frasa dibagi menjadi dua:

a. Frasa Endosentris (Memiliki unsur inti/pusat)

  • Koordinatif: Unsurnya setara. Contoh: ayah dan ibu, makan atau minum.
  • Atributif: Terdiri atas unsur inti dan penjelas. Contoh: rumah besar, buku baru, anak rajin.
  • Apositif: Kedua unsurnya mengacu pada hal yang sama. Contoh: Andi, ketua kelas itu; Jakarta, ibu kota Indonesia.

b. Frasa Eksosentris (Tidak memiliki unsur inti)

  • Direktif: Menggunakan preposisi/kata depan. Contoh: ke sekolah, dari rumah, di pasar.
  • Nondirektif: Perangkainya bukan kata depan (menggunakan partikel). Contoh: sang juara, si kecil, kaum muda.

3. Frasa Berdasarkan Makna

Ditinjau dari hubungan makna antarunsurnya, frasa dibedakan menjadi:

  • Frasa Idiomatik: Bermakna kiasan, maknanya tidak bisa dicari leksikal per kata. Contoh: batang hidung, anak buah, gaji buta, angkat tangan, gulung tikar.
  • Frasa Ambigu: Memiliki lebih dari satu makna/taksa. Contoh: buku sejarah baru (apakah bukunya yang baru, atau sejarahnya yang baru?), guru bahasa Indonesia baru.
  • Frasa Lugas: Bermakna sebenarnya dan mudah dipahami secara langsung. Contoh: rumah besar, meja kayu, air dingin.

4. Frasa Berdasarkan Kedudukan Unsur

Berdasarkan kedudukan dan posisi unsur pembentuknya, frasa dibagi menjadi:

  • Frasa Koordinatif: Unsurnya setara/sederajat dan dihubungkan konjungsi dan/or/atau. Contoh: ayah dan ibu, makan dan minum.
  • Frasa Subordinatif: Unsurnya tidak setara, ada inti dan ada penjelas. Contoh: rumah besar (besar menjelaskan rumah), sedang belajar (sedang menjelaskan belajar).

Kesimpulan

       Frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif serta menduduki satu fungsi sintaksis dalam kalimat. Dengan memahami berbagai jenis frasa baik berdasarkan kelas kata, hubungan unsur, makna, maupun kedudukannya kita dapat menggunakan bahasa Indonesia secara lebih terstruktur, menghindari ambiguitas, serta menyampaikan informasi secara jelas dan efektif.

      Disarankan bagi mahasiswa dan pengajar untuk terus berlatih menganalisis frasa dalam berbagai teks, seperti berita, karya sastra, atau media sosial, agar pemahaman terhadap teori frasa tidak hanya bersifat normatif tetapi juga aplikatif.


Referensi Utama:

  • Harahap, R. N. M. dan Cahyani, C. G. (2023). Analisis Frasa Berdasarkan Kategori Kelas Kata pada Cuitan Twitter Tokoh Nasional. Imajeri: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol. 05, No. 2.
  • Hasanudin, C. (2018). “Kajian Sintaksis pada Novel Sang Pencuri Warna Karya Yersita.” Jurnal Pendidikan Edutama, 5(2): 19–30.
  • Karwati, D. dan Wulansari. (2022). Analisis Frasa Berdasarkan Golongan Kata Terhadap Teks Berita. Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol. 8, No. 2.
  • Langoday, Y. R., Mora, O. G., Nensilianti. (2024). Frasa Endosentris Dan Eksosentris Pada Penyampaian Visi Misi Capres 2024. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, Vol. 17 No. 2.
  • Makalah "Frasa" oleh Kelompok I (Pebriana, Sarah Rahmadani Rambe, Virgie Helmi, Najwa Khadijah), Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Sumatera Utara, 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Implementasi Media Konvensional dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca

Standar Kompetensi dan Silabus BIPA(Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing)

Pengenalan Kearifan Lokal dalam Kamus