Sintaksis dan Leksikon Melayu Klasik dan Modern
Bahasa merupakan cerminan perkembangan budaya dan peradaban suatu masyarakat. Bahasa Melayu sebagai salah satu bahasa Nusantara memiliki sejarah panjang yang membentuk identitas bangsa. Perubahan zaman menjadikan bahasa ini mengalami perkembangan yang cukup signifikan dari masa Melayu Klasik menuju Melayu Modern.
Perubahan tersebut tidak hanya terlihat pada konteks pemakaian bahasa, tetapi juga pada struktur kalimat (sintaksis) dan kosakatanya (leksikon). Lalu, seperti apa transformasi yang terjadi? Yuk, kita telusuri perbedaan mendasar antara Melayu Klasik dan Melayu Modern!
Bahasa Melayu Klasik banyak ditemukan dalam naskah kuno dan sastra kerajaan. (Sumber: Unsplash)
A. Sintaksis: Dari Bertingkat ke Efektif
Sintaksis adalah cabang linguistik yang mempelajari hubungan antarkata dalam frasa, klausa, dan kalimat agar membentuk makna yang utuh. Perkembangan sintaksis bahasa Melayu mencerminkan gaya bahasa, budaya, serta kebutuhan komunikatif penuturnya di setiap era.
1. Sintaksis Bahasa Melayu Klasik
Bahasa Melayu Klasik digunakan pada prasasti dan naskah istana. Struktur kalimatnya memiliki gaya bahasa tinggi, berwibawa, dan bersifat estetis. Ciri utamanya adalah kalimat yang cenderung panjang, bertingkat (hipotaksis), banyak pengulangan, serta menggunakan partikel naratif. Penggunaan kata seperti maka, adapun, titah, hamba, patik, dan adanya sering ditemukan untuk menunjukkan hierarki sosial dan tata krama.
Contoh Melayu Klasik:
"Maka titah Sultan Melaka kepada segala hulubalangnya yang berdiri menghadap baginda, hendaklah kamu sekalian turun ke perahu dan bersiap pada segala senjata adanya."
| Subjek | Predikat | Objek | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Sultan Melaka | Titah (Memerintah) | Para hulubalang | Yang berdiri menghadap baginda… |
2. Sintaksis Bahasa Melayu Modern
Bahasa Melayu Modern berkembang karena pendidikan dan kodifikasi bahasa. Struktur kalimatnya berubah menjadi lebih efektif, ringkas, dan langsung ke informasi. Pola kalimat baku yang banyak digunakan mengikuti urutan S-P-O-K yang jelas serta menghindari repetisi yang tidak penting.
Contoh Melayu Modern:
"Sultan Melaka memerintahkan para hulubalang untuk turun ke perahu dan menyiapkan senjata."
| Subjek | Predikat | Objek | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Sultan Melaka | Memerintah | Para hulubalang | untuk turun ke perahu dan menyiapkan senjata |
B. Leksikon: Dari Hierarki ke Kesetaraan
Leksikon adalah kumpulan seluruh kosakata yang dimiliki oleh suatu bahasa. Perubahan leksikon menjadi indikator paling jelas terhadap perubahan zaman dan cara hidup penuturnya.
1. Leksikon Melayu Klasik
Pada masa klasik, bahasa bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mempertahankan nuansa kebesaran kerajaan dan adab berkomunikasi. Penggunaan sapaan seperti hamba, patik, dan tuanku sangat penting menunjukkan hubungan status. Kata-kata seperti syahdan, adapun, atau daulat bukti pengaruh agama Islam dan tradisi kerajaan.
2. Leksikon Melayu Modern
Bahasa Melayu Modern menyerap banyak kosa kata dari bahasa Belanda, Portugis, dan Inggris, terutama dalam bidang teknologi, administrasi, dan sains. Pilihan katanya lebih netral, informatif, dan mengedepankan kesetaraan sosial.
C. Ringkasan Perbedaan Melayu Klasik dan Modern
Secara keseluruhan, perubahan pada sintaksis dan leksikon mencerminkan perkembangan fungsi bahasa dari media sastra dan kerajaan menjadi bahasa komunikasi luas. Berikut perbedaan ringkasnya:
- Sintaksis Klasik: Panjang, berulang, banyak inversi, estetis, dan bertingkat.
- Sintaksis Modern: Efektif, ringkas, lugas, pola S-P-O-K baku, logis.
- Leksikon Klasik: Pengaruh Arab-Sanskerta, sarat hierarki (hamba, tuanku), dan nuansa kerajaan (titah, baginda).
- Leksikon Modern: Pengaruh Barat (Belanda/Inggris), netral, kesetaraan (saya, Anda), dan kosakata teknologi/sains.
Kesimpulan
Perkembangan bahasa Melayu dari era Klasik ke Modern menunjukkan transformasi mendasar yang mencerminkan perubahan kebutuhan sosial. Melayu Klasik mempertahankan keindahan, kesantunan, dan simbol kekuasaan melalui bahasa. Sementara Melayu Modern mengutamakan kejelasan, efisiensi, dan sifat demokratis dalam penyampaian informasi.
Meski begitu, bahasa Melayu terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman, tetapi tetap menyimpan jejak sejarah panjangnya melalui peninggalan naskah-naskah klasik yang tak ternilai harganya.
Referensi:
- Asmah, H. Omar. (1992). Nahu Melayu Mutakhir. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
- Chaer, A. (2009). Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
- Kridalaksana, H. (2001). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
- Muslich, M. (2011). Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
- Ramlan, M. (2001). Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta: UPP IKIP.
- Suryani, Y. (2018). Kajian Bahasa Melayu Klasik dalam Perspektif Sintaksis. Padang: UNP Press.
Komentar
Posting Komentar